Rage in Peace — Rolling Glory Jam (2018)

Dipublikasikan pada 18 Nov 2025

Genre: Action / Platformer / Adventure
Platform: PC (Steam), Nintendo Switch

Rage in Peace adalah game platformer aksi buatan Rolling Glory Jam, studio kreatif asal Bandung yang dikenal dengan pendekatan artistik dan storytelling yang tidak biasa. Dirilis pada tahun 2018, game ini segera mencuri perhatian karena memadukan humor absurd, tantangan brutal, dan cerita emosional yang mengejutkan dalam satu paket yang tak terlupakan.

Game ini mengikuti kisah Timmy Malinu, seorang pegawai asuransi yang hidupnya sangat biasa—bahkan terlalu biasa. Timmy dikenal sebagai sosok introver yang hanya ingin menjalani hidup damai, tanpa drama, tanpa konflik, dan tanpa kejutan. Namun pada suatu pagi, hidupnya berubah total ketika sebuah Malaikat Kematian muncul dan memberitahunya bahwa hari ini adalah hari kematiannya.

Hal yang membuatnya terkejut bukanlah dirinya akan mati—Timmy sebenarnya sudah lama menerima bahwa hidup berakhir—melainkan cara ia akan mati: dipenggal kepalanya. Timmy langsung tahu bahwa itu bukan cara yang ia inginkan. Keinginan terakhirnya sangat sederhana dan polos: ia ingin mati di rumahnya sendiri, memakai piyama kesayangannya, dalam keadaan tenang dan damai.

Dengan motivasi inilah petualangan gila Rage in Peace dimulai. Pemain harus membantu Timmy menuju rumahnya melalui serangkaian level yang penuh jebakan mematikan. Namun jebakan-jebakan ini bukan jebakan biasa — semuanya tidak masuk akal, hiperaktif, dan konyol. Tiba-tiba lantai bisa meledak, dinding bisa menyembur pisau, ikan hiu bisa terbang dari toilet, robot raksasa bisa muncul tanpa peringatan, bahkan serangan meteor bisa jatuh begitu saja.

Konsep gameplay-nya berfokus pada trial-and-error, di mana pemain dipaksa untuk belajar dari setiap kematian. Tidak ada cara lain selain mati berkali-kali. Tapi setiap kematian Timmy selalu dibuat dramatis, lucu, dan sangat “WTF,” membuat permainan terasa seperti perpaduan antara komedi slapstick dan game hardcore.

Namun di balik kekacauan itu, Rage in Peace menyimpan kisah yang sangat manusiawi. Sepanjang perjalanan, pemain disuguhi fragmen-fragmen masa lalu Timmy: ketakutannya, rasa kesepian yang selama ini ia tutupi, hubungan yang rumit dengan keluarganya, dan momen-momen kecil yang membentuk dirinya. Semua itu dirangkai melalui narasi yang sederhana namun mengena, membuat pemain perlahan memahami bahwa Rage in Peace bukan sekadar game rage, tetapi juga kisah tentang menerima hidup dan menerima kematian.

Dari sisi visual, game ini mengusung gaya 2D dengan warna pastel lembut dan animasi yang ekspresif. Walaupun tema permainan penuh kekerasan komedik, estetikanya terasa hangat dan menenangkan. Setiap level punya ciri khas unik yang menggambarkan perasaan Timmy, mulai dari suasana kantor yang monoton hingga dunia surreal penuh simbol-simbol psikologis.

Soundtrack-nya adalah salah satu aspek paling dipuji. Musik dalam game ini dirancang untuk menggambarkan perjalanan emosional Timmy: kadang ringan dan kocak, kadang melankolis, bahkan kadang terasa menenangkan tetapi menyakitkan—seperti seseorang yang sedang belajar merelakan hidupnya.

Secara keseluruhan, Rage in Peace adalah contoh bagaimana developer Indonesia bisa membuat game yang berani, berbeda, dan sangat personal. Bukan hanya sekadar game yang membuat pemain marah, tetapi juga membuat pemain berpikir, tertawa, merenung, bahkan menangis. Ini adalah pengalaman yang jarang ditemui dalam platformer modern dan menjadi salah satu karya terbaik Rolling Glory Jam.
← Kembali ke Blog